Definisi
Chronic
Kidney Disease (CKD) merupakan gangguan ginjal yang progresif dan irreversibel
di mana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan
cairan dan elektrolit, menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen
lain dalam darah
Penyebab
CKD dapat
disebabkan oleh penyakit sistemik:
1.
DM.
2.
Glomerulonefrtitis kronis
3.
Pielonefritis
4.
Agen toksis
5.
Hipertensi yang tidak teekontrol
6.
Obstruksi traktus urinalisis
7.
Gangguan vaskuler
8.
Infeksi
Patofisiologi
Berdasarkan hipofesisi nefron yang utuh, mengatakan bahwa bila
nefron terserang penyakit maka seluruh unitnya akan hancur, namun sisa nefron
yang masih utuh tetap bekerja normal. Uermia timbul jika jumlah nefron sudahg berkurang sehingga keseimbangan
cairan dan elektrolit tidak dapat dipertahankan lagi.
Sisa nefron yang ada
beradaptasi dengan mengalami hipertensi dalam usahanya untuk melaksanakan
seluruh beban ginjal. Terjadinya peningkatan solut dan filtrasi dan reabsorbsi
tubulus dalam setiap nefron meskipun GRF untuk seluruh massa nefron yang
terdapat dalam ginjal turun di bawah nilai normal, namun akhirnya jika kurang
lebih 75% massa nefrontelah hancur maka kecepatan filtrasi dan beban solut bagi
setiap nefron demikian tinggi sehingga keseimbangan glomerulus tubulus tidak
dapat lagi dopertahankan.
Hilangnya kemampuan memekatkan
atau mengencerkan kemih menyebabkan BJ urin tetap pada nilai 1,010 atau
285mOsmot (sama dengan konsentrasi plasma) dan merupakan penyebab gejala
poliuria dan nokturia.
Retensi cairan danan natrium
yaitu ginjal yang tidak mampu mengkonsentrasikan dan mengencerkan urin. Respon
ginjal yang tersisa terhadap masukan cairan dan elektrolit sehari-hari tidak
terjadi. Pasien sering menahan cairan dan natrium, sehingga meningkatkan risiko
terjadinya edema, gagal jantung kongestif dan hipertensi. Hipertensi juga dapat
terjadi akibat aktivasi aksis reninangiotensin dan kerjasama keduanya
meningkatkan sekresi aldosteron. Episode muntah dan diare menyebabkan penipisan
air dan natrium yang menyebabkan memepreberat stadium uremik.
Asidosis. Dengan berkembangnya
penyakit renal terjadi asidosis metabolik seiring dengan ketidakmampuan ginjal
mengekskresikan muatan asam (H+) yang berlebihan. Penurunan sekresi asam
terutama akibat ketidakmampuan tubulus ginjal mengekskresikan amonia dan
mengabsorbsi natrium bikarbonat. Penurunan ekskresi fosfat dan asam organik
lain yang terjadi.
Anemia. Terjadinya anemia
sebagai akibat terjadi produksi erytropoitin yang tidak adekuat, memendekkan
usia sel darah merah, defisiensi nutrisi dan kecenderungan untuk mengalami
perdarahan akibat status uremik pasien, terutamam dari saluran
gastrointertinal. Erytropoitin adalah suatu substansi normal yang diprosuksi
oleh ginjal, menstimulus sum-sum tulang untuk menghasilkan se darah merah. Pada
gagal ginjal produksi erytropoitin menurun dan anemia berat terjadi disertai
keletihan, angina dan sesak nafas.
Ketidakseimbangan kalsium dan
fosfat. Pada CKD terjadi gangguan metabolisme kalsium dan fosfat. Kedua kadar
serum tersebut memiliki hubungan yang saling berlawanan. Dengan menurunnya
filtrasi melalui glomerulus ginjal, terdapat peningkatan kadar fosfat serum dan
penurunan kadar serum kalsium.
Penyakit tulang uremik
(osteodistrofi renal) terjadi perubahan kompleks kalsium, fosfat dan keseimbangan
parathormon.
Laju penurunan fungsi ginjal
dan perkembangan CKD berkaitan dengan gangguan yang mendasari yaitu ekskresi
protein dalam urin dan adanya hipertensi. Pasien yang mengekskresikan sejumlah
protein atau mengalami peningkatan tekanan darah cenderung akan cepat memburuk
daripada mereka yang tidak mengalami kondisi ini.
CKD
Ginjal tidak berfungsi maksimal
Retensi produksi sisa
Diuresis osmotik
Nefron-nefron rusak
Nefron yang utuh hipertrofi dan
memproduksi
Volume filtasi yang meningkat
Glomerulonefritis Proses filtrasi terganggu Vaskularisasi
ginjal menurun
Infeksi traktus urinalis Proses filtrasi terganggu Perfusi aliran darah ke ginjal
menurun
Proses filtrasi glukosa (beban kerja meningkat)
Glukosa
darah
DM
Manifestasi
klinis
1.
Sistem kardiovaskuler: mencakup
hipertensi (akibat retensi cairan dan natrium dari aktivasi sistem
renin-angitensin-aldosteron), gagal jantung kongestif dan edema pulmoner
(akibat cairan berlebih) dan perkarditis (akibat iritasi pada lapisan
perikardial oleh toksin uremik).
2. Sistem integumenrum: rasa gatal yang parah
(pruritus). Butiran uremik merupakan suatu penunpukkan kristal urin di kulit,
rambut tipis dan kasar.
3.
Sistem gastrointestinal: anoreksia, mual, muntah.
4. Sistem neurovaskuler: perubahan tingkat
kesadaran, tidak mampu berkonsentrasi, kedura otot dan kejang.2tem pulmoner:
krekels, sputun kental, nafas dalam dan kusmaul.
6. Sistem reproduktif: amenore, atrifi
testikuler.
Penatalaksanaan
Tujuan penatalaksanaan adalah untuk mempertahankan fungsi ginjal dan
homeostasis selama mungkin.
Intervensi diit. Protein
dibatasi karena urea, asam urat dan asam organik merupakan hasil pemecahan
protein yang akan menumpuk secara cepat dalam darah jika terdapat gangguan pada
klirens renal. Protein yang dikonsumsi harus bernilai biologis (produk susu,
telur, daging) di mana makanan tersebut dapat mensuplai adam amino untuk
perbaikan dan pertumbuhan sel. Biasanya cairan diperbolehkan 300-600 ml/24 jam.
Kalori untuk mencegah kelemahan dari karbohidrat dan lemak. Pemberian vitamin
juga penting karena pasien dialisis mungkin kehilangan vitamin larut air
melalui darah sewaktu dialisa.
Hipertensi ditangani dengan
medikasi antihipertensi kontrol volume intravaskule. Gagal jantung kongestif
dan edema pulmoner perlu pembatasan cairan, diit rendah natrium, diuretik,
digitalis atau dobitamine dan dialisis. Asidosis metabolik pada pasien CKD
biasanya tanpa gejala dan tidak perlu penanganan, namun suplemen natrium
bikarbonat pada dialisis mungkin diperlukan untuk mengoreksi asidosis.
Anemia pada CKD ditangani
dengan epogen (erytropoitin manusia rekombinan). Anemia pada pasaien (Hmt <
30%) muncul tanpa gejala spesifik seperti malaise, keletihan umum dan penurunan
toleransi aktivitas. Abnormalitas neurologi dapat terjadi seperti kedutan,
sakit kepala, delirium atau aktivitas kejang. Pasien dilindungi dari
kejang.
Komplikasi
1. Hiperkalemia: akibat penurunan ekskresi,
asidosis metabolik, katabolisme dan masukan diit berlebih.
2. Perkarditis: Efusi pleura dan tamponade
jantung akibat produk sampah uremik dan dialisis yang tidak adekuat.
3. Hipertensi akibat retensi cairan dan
natrium serta malfungsi sistem renin-angiotensin-aldosteron.
4. Anemia akibat penurunan eritropoetin,
penurunan rentang usia sel darah merah.
5. Penyakit tulang serta kalsifikasi akibat
retensi fosfat, kadar kalsium serum rendah, metabolisme vitamin D dan
peningkatan kadar aluminium.
Kemungkinan diagnosa yang muncul pada CKD
1.
Kelebihan volume cairan b.d
penurunan haluan urin, retensi cairan dan natrium.
2.
Kebutuhan nutrisi: kurang dari kebutuhan b.d anoreksia,
mual, muntah, pembatasan diit.
3.
PK: hipertensi.
4.
PK: anemia.
5. Intoleransi aktivitas b.d kelebihan,
anemia, produk sampah metabolik.
DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL
pada CHF
1. Penurunan kardiak output b.d. infark
miokardium
2. Intoleransi aktifitas b.d.
ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan O2
3. Pola nafas tidak efektif b.d. kelemahan
4.
Kelebihan volume cairan b.d. gangguan mekanisme
regulasi
5. resiko infeksi b.d. tindakan invasive
6. Kurang pengetahuan tentang penyakit gagal
jantung b.d. kurangnya sumber informasi.
Setiap T, setiap N, M0
Setiap T, setiap N, M1
-
-
T1, N0, M0
T2-4, N0, M0
Setiap T, N1, M0
Setiap T, setiap N, M0
Meduler
v
Stadium I
v
Stadium II
v
Stadium III
v
Stadium IV
-
setiap T, setiap N, M0
-
setiap T, setiap N, M1
T1, N0, M0
T2-4, N0, M0
Setiap T, N1, M0
Setiap T, setiap N, M1
Tdk dapat dikalsifikasikn
v
Stadium I
v
Stadium II
v
Stadium III
v
Stadium IV
-
-
-
setiap T, setiap N, etiap M
-
-
-
setiap T, setiap N, setiap M
Catatan :
Tx :
tumor tidak dapat ditentukan
T0 :
Tidak ada tumor
T1 :
tumor berdiameter terpanjang < 3 cm
T2 :
tumor berdiameter terpanjang >3 cm
T3 :
fikus intraglanduler multiple
T4 :
tumor primer terfiksasi
Metastase Kanker
Nodul tanpa nyeri pada tiroi atau pada leher biasanya
merupakan tanda awal adanya penyakit. Keterlibatan limfonodi servikal sering
timbul pada awal diagnosis. Setiap pembesaran limfonodi servikalis yang tidak
terjelaskan memerlukan pemeriksaan tiroid, yang kadang kadang menderita tumor
primer yang sangat kecil untuk diraba, diagnosisnya didasarkan pada hasil biopsy
limfonodi. Paru paru merupakan tempat metastase yang paling lazim di luar
leher. Mungkin tidakada menifestasi klinis yang dapat diacu padanya, secara
rontgenografis, tumor ini tampak sebagai
infiltrasi nodular atau milies difus, terutama bagian basal. Tumor ini mungkin
terkelirukan dengan TBC, histoplasmosis atau sarkoidosis. Tempat tempat
matastasis lain meliputi mediatinum, tulang panjang, tulang tengkorak dan
aksilla.
Diagnosis
Secara klinis ditegakkan diagnosis struma nodusa dengan
persangkaan jinak atau ganas. Diagnosis yang diperoleh dapat berupa :
- kelainan yang
bukan neoplasma
- neoplasma jinak
- neoplasma ganas.
Bila diagnosisnya suatu proses keganasan tiroid maka harus dinilai apakah
masih operable ataukah sudah inoperable.
Diagnosis pasti dengan histopatologi. Sediaan dapat
diperoleh denganpemerisaan potong beku atau pemeriksaan dengan paraffin coupe
(gold standar).
Pemeriksaan Penunjang
Langkah pertama yang dianjurkan adalah menetukan status
fungsi tiroid dengan memeriksa TSH (sensitive) dan T4 bebas. Pada keganasan
thyroid umumnya fungsi thyroid normal. Tetap abnormalitas fungsi thyroid tidak
dapat dengan sendirinya menghilangkan kemungkinan keganasan.
- Pemeriksaan
laboratorium tidk ada yang spesifik, kecuali pemeriksaan kadar kalsitonin
untuk pasien yang dicurigai karsinoma meduler. Pengukuran kadar human
Thyroglobulin, suatu pertanda tumor untuk keganasan tiroid yang
berdiferensiasi baik terutama untuk monitoring setelah terapi pembedahan
total tiroidektomi.
- Pemeriksaan
ultrasonografi untuk menentukan apakah nodul padat atau kistik dan sebagai
penuntun pada biopsy jarum halu. Nodul padat cenderung ganas.
- Pemeriksaan
sisdik thyroid, dapat dilakukan jika terdapat fasilitas kedokteran muklir.
Bila nodul menangkap yodium sedikit dari jaringan thyroid yang normal
disebut nodul dingin. Bila sama afinitasnya disebut nodul hangat.
Karsinoma thyroid sebagian besar nodul dingin.
- Biopsi jarum
dapat dilakukan dengan cara needle core biopsy atau biopsy jarum halus.
Hasil ketepatan diagnostiknya masih diperdebatkan.
- Pemeriksaan
radiologis dilakukan untuk mencari metastasis. Dilakukan foto paru
posterioanterior, foto polos jaringan lunak leher antero-posterior dan
lateral dengan posisi leher hiperekstensi bila tumornya besar, esofagogram
bila secara klinis terdapat tanda tanda adanya infiltrasi ke esophagus dan
foto tulang bila ada tanda tanda metastasis ke tulang.
Penatalaksanaan
1. Pembedahan
Bila diagnosis kemungkinan telah ditegakkan
dan operable, operasi yang dilakukan adalah lobektomi sisi yang patologik atau
lobektomi subtotal dengan risiko bila ganas kemungkinan ada sel sel karsinoma
yang tertinggal. Pembedahan umumnya berupa tiroidektomi total. Komplikasi dari
operasi antara lain terputusnya nervus laringeus rekurens dan cabang eksterna
dari nervus laringeus superior, hipotiroidisme dan ruptur esophagus. Setelah
pembedahan, hormon tiroid diberikan dengan dosis supresif untuk menurunkan
kadar TSH hingga tercapai keadaan eutiroid
2. Radiasi
Bila tumor sudah inoperable atau pasien
menolak operasi lagi untuk lobis kontralateral, dilakukan:
a. Radiasi interna dengan I131. hanya tumor tumor
berdiferensiasi baik yang mempunyai afinitas terhadap I131 terutama
yang folikuler. Radiasi interna juga diberikan pada tumor tumor yang telah
bermetastasis atau terdapat sisa tumor
b. Radiasi eksterna, memberikan hasil yang cukup baik untuk
tumor tumor inoperable atau anplastik yang tidak berafinitas terhadap I131.
[pemberian eksterna terapi radiasi menghadapi risiko untukmengalami mukositis,
kekeringan mulut, disfagia, kemerahan mulut, anoreksia, kelelahan.
Prognosis
Prognosis pasien dengan kanker thyroid berdiferensiasi
baik tergantung pada umur, adanya ekstensi, adanya lesi metastasis, diameter
tumor dan jenis histopatologi.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar